Institution : Sebuah Metodologi dan Aplikasi - Taxation, Economics, E-commerce, and Education (Taxedu.web.id)
Ads Here

Institution : Sebuah Metodologi dan Aplikasi

Metodology atas Economic Analysis

Dalam Economic Analysis terdapat banyak metodologi yang digunakan dengan perbedaan sudut pandang, seperti positive theory dengan normative theory, quantitative vs qualitative, endogenous vs exogenous, deduction vs induction, historical vs behavioral, experimental vs methodology, game theory dll. Termasuk Institutional economics yang mempelajari kejadian dari Old sampai dengan new and further serta atas the sciences of choice and contract.

Ilustrasi Institution : Sebuah Metodologi dan Aplikasi image pixabay.com (www.taxedu.web.id)
Ilustrasi Institution : Sebuah Metodologi dan Aplikasi image pixabay.com 

Institutional economics pada dasarnya menggunakan game-theoretical framework untuk menganaliisis sisi ekonomi dari institution. Game theoretical framework pada dasarnya berada setingkat diatas classical game theory.

Sebelum masuk ke Institutional analysis, ada baiknya jika melihat perubahan sejarah yang terjadi dan jenis-jenis metodologi dalam ekonomi.

Karl Popper (1959) mengatakan "How and why we accept one theory in preference to others?" Jangan terlalu pro kepada satu theory dan merendahkan teori yang lain. Albert Einstein mengatakan "There could be no Fairer Destini for a theory, it should point to more comprehensive theory and it lives on" tidak akan ada teori yang sifatnya ultimate, namun teori akan terus tumbuh menjadi teori baru.

Karl Popper menambahkan the problem of cosmology; the problem of understanding the world; dengan memahami diri sendiri, sebagai bagian dari dunia, maka akan memahami dunia. Disisi lain, the problem of epistemology yaitu memahami dunia dengan menggunakan common sense dan scientific knowledge.

Lebih lanjut Popper mengatakan kapan sebuah teori bisa menjadi scientific status, ketika teori itu memenuhi Falsifiability, Refutability, dan Testability

Dalam Positif ekonomi mendefinisikan atas "What is?" atau faktanya apa, sedangkan Normatif ekonomi melihat "What Ought to be?"atau seharusnya seperti apa. Perbedaan ini pertama kali diutarakan oleh John Neville Keynes (1891) yang berkolaborasi dengan Milton Friedman (1953).

Tujuan dari Positif ekonomi adalah meciptakan development theory yang valid sesuai dengan fakta yang terjadi di dunia nyata. Walau Gunnar Myrdal (1954) mengatakan bahwa economic sulit untuk bersifat agenda-free atau Netral.

Qualitative vs Quantitative

Qualitatif adalah analisa secara lengkap dan detail menggambarkan perbedaan dan menjelaskan yang terjadi. Qualitatif yang baik bisa menghilangkan ambiguitas yang terkadang muncul dalam kendala bahasa

Sedangkan Quantitatif memberikan bukti statistikal untuk menjelaskan apa yang sedang di observasi. Bisa digunakan dengan cara membandingkan, sampling, dll. Biasanya kekuatan untuk menggeneralisir dalam Quantitatif lebih kecil daripada Qualitative.

Endogenous vs Exogenous

Endogenous theory mengatakan bahwa solusi atas suatu masalah bisa diprediksi dari sebuah sistem/model solusi. Jadi ibaratnya Raw-materialnya sudah lengkap. Sedangkan Exogenous melihat ada faktor lain diluar itu yang datangnya bukan dari model solusi.

Deduction vs Induction

Deduction = Teori --> Hipotesis --> Observasi --> Konfirmasi
Induction = Observasi --> Pola (Pattern) --> Tentative Hypothesis --> Theory.

German Historical School (Gerbong Ekonomi)

German merupakan pioner dalam bagaimana menganalisis ekonomi dari sudut pandang sejarah, jauh berbeda dari pendekatan Classical Anglo-Saxon (David Ricardo dan JS Mill). Sifat historicalnya membuat metode bergantung pada empirical observation dan inductive reasoning bukan theoretical proposition dan deduction. Asal dari pembelajaran ini adalah filsafat Hegelian.

Gerbong ini menolak universal validity dalam economic teorem. Mereka berpendapat ekonomi berasal dari empirical dan historical analysis daripada menggantungkan pada logic dan mathematics semata. Jadi dalam gerbong ini, historical, political dan social lebih penting daripada mathematical model.

Behavioral Economics

Behavioral economic adalah cikal bakal institutional economics. Basic sebenarnya adalah psikologikal dan cognitive science daripada asumsi ekonomi. Pemikirannya sederhana yaitu economic activity berjalan dalam konteks adanya restraints dalam society, baik formal atau informal sehingga mendorong atau melimit activities dari setiap agentnya. Berdasarkan hal itu, Institutional Economics mengatakan bahwa restraints-nya sebenarnya dibuat dari member of society sendiri. Makanya untuk meningkatkan welfare society, economic activites yang dibuat member of society harus bisa encourage, bukan limiting.

Experimental Economics

Eksperimental economic pada dasarnya adalah inference atas eliminative induction proces. jadi melakukan eliminasi atas alternatif interpretasi dalam empirical experiment. Karena Social practice dan conventions memiliki peran penting dalam menjelaskan fenomena kegiatan ekonomi di masyarakat. Dalam eksperimental, social practice itu dicoba di terapkan dalam sebuah eksperimen untuk menggambarkan kejadian di real world dan membandingkan dengan teori. Jadi eksperimenya di design sebagai mediator untuk membandingkan teori dan real world.

Smith (2000) mengatakan, sulit untuk melakukan eksperimen membentuk institusi, karena institusi hanya menghasilkan kompleksitas.

Coase (1999) mengatakan sifat ekonomi yang dikatakan oleh Adam Smith sebagai "Static Character", bisa di mirroring dengan biologi dimana Darwin mengatakan teori Evolusi.  Para biologis tidak menjatuhkan teori evolusi Darwin, namun melihatnya dari sisi yang berbeda. Seperti Institutional Economist yang tidak menjatuhkan teori Adam Smith, tetapi melihatnya dari sisi yang berbeda. 

Pada awalnya para institutional economist mengobservasi beberapa variabel seperti; Organizational Arrangement, Transaction Cost, Enforcement Mechanism, Human asset dll. Lalu kedepannya institutional economist menggunakan history sebagai sarana mempelajari institutional economist daripada menggunakan pendekatan neo-classical.

Williamson (2009) mengatakan salah satu kontribusi Insitusional economist adalah "The Sciences of Choices and Contract". Dalam sudut pandang ini, Science of Choice adalah meilhat dari scarcity dan resources allocation, sehingga dibutuhkan pemerintah sebagai public ordering (Constitutional Economics). Sedangkan, Science of Contract melihat adanya complex exchange yang tidak bisa disupport dari pasar. Seperti Ex-ante Incentive Alignment, mechanism design, agency theory, formal property rights. Selain itu ex-post governance melihat dari contract implementation, mitigasi contract, transaction cost dll.